28 Juli 2026 - 22:07
Politico: Pertemuan Netanyahu dengan Trump Menjadi Bencana bagi Arus “America First”!

Pertemuan Benjamin Netanyahu dengan Donald Trump memicu gelombang kekhawatiran di kalangan sayap konservatif Partai Republik. Mereka meyakini bahwa Netanyahu, demi mempertahankan kelangsungan politiknya, sedang berusaha menyeret Amerika ke dalam perang dengan Iran.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait — ABNA — media Politico dalam sebuah laporan menulis bahwa para pendukung arus “America First” di Partai Republik memandang pertemuan terbaru Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai sebuah “bencana potensial” bagi kebijakan mereka. Kelompok ini khawatir Perdana Menteri Israel memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menekan Trump agar masuk ke dalam ketegangan militer baru dengan Iran; sebuah langkah yang dapat kembali menyeret Amerika Serikat ke dalam perang panjang dan menguras kekuatan di Timur Tengah.

Menurut laporan media tersebut, sementara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir telah menghentikan serangan balasan untuk membuka peluang menghidupkan kembali perundingan damai, kunjungan Netanyahu ke Washington dilakukan dengan tujuan memperoleh dukungan Trump bagi kelanjutan operasi-operasi militer. J.D. Vance, Wakil Presiden, sebelumnya menuduh pemerintahan Netanyahu sengaja merusak jalur perundingan antara Washington dan Teheran demi memperpanjang perang.

Politico menyebutkan bahwa bahkan Trump sendiri, dalam pertemuan terbaru G7, menyampaikan kritik tajam terhadap kelanjutan serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon. Menurut para pengamat, Netanyahu yang di dalam negeri menghadapi tekanan pemilu sulit pada bulan Oktober, membutuhkan sebuah “capaian nyata” dari pertemuan ini demi mempertahankan posisi politiknya. Namun keinginan tersebut bertentangan dengan pendekatan Trump saat ini yang ingin mengurangi intervensi militer.

Pada akhirnya, pertemuan ini merupakan sebuah pertaruhan besar bagi Netanyahu. Sebab seluruh identitas politiknya dibangun di atas “perlawanan terhadap Iran”, tetapi kini ia berhadapan dengan seorang presiden yang setidaknya berada di bawah tekanan untuk mengambil keputusan akhir berdasarkan kepentingan nasional Amerika dan menghindari perang tanpa akhir. Kegagalan meyakinkan Trump dapat semakin melemahkan posisi Netanyahu yang sudah goyah menjelang pemilu mendatang.

Rezim Zionis pada bulan ini tidak ikut serta dalam operasi agresif Amerika terhadap Iran yang berlangsung sekitar dua pekan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Netanyahu mengakui bahwa dirinya dan Trump memiliki sejumlah perbedaan pandangan, karena tampaknya kepentingan Israel dan Amerika di kawasan mulai menjauh satu sama lain.

Sebuah panggilan telepon yang keras pada bulan Juni, ketika Presiden Amerika menyebut Perdana Menteri rezim Zionis sebagai orang gila, pertama kali bocor ke media dan kemudian dikonfirmasi secara terbuka oleh Trump sendiri. Peristiwa ini mengungkap ketegangan yang muncul di antara keduanya.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha